Media Sosial dan Penikmatnya
Malang. Dulu dijenjang
sekolah dasar bapak ibu guru kita memberi pengertian bahwa manusia adalah
makhluk social, dimana manusia secara fitrah memiliki ketergantungan dengan
manusia bahkan makhluk lain, dan itu terbukti sejak jual beli dengan model
barter sampai pada model transaksi COD (istilah transaksi jual beli sekarang)
yang belum karuan barang yang dijual belikan itu ada atau tidak.
Memang pada
dasaranya tekhnologi informasi (sain) yang berbicara, dimana praktik pengertian
tentang manusia diatas cukup diaplikasikan pada model medsos (media
social) yang bermacam-macam apa lagi diimbuhi jaringan internet yang
semakin murah meriah danmudah didapat seperti di warung kopi yang sudah umum
sebenarnya, tempat cucian mobil dan motor, bahkan sampai di rumah makan yang
tidak mungkin kita duduk berjam-jam menikmati wifi tetap disediakan disana, dan
lain sebagainya.
Fenomena wifi
ini seakan-akan menjadi jembatan untuk melancarkan hubungan social
dimedia-media yang tak karuan jjumlahnya, sehingga patut jika saat ini banyak
orang mengatakan “ kalua dulu kita ngopi atau bertemu dengan kawan lama pasti
ngobrol dan saling bertatap wajah, sedangkan saat ini berbeda pasti khusyuk
melihat HP pintarnya masing-masing, menyelesaikan misi di game COCnya bahkan
yang sempat naik daun pada pertengahan tahun 2016 adalah pokemon go yang
kemana-mana pasti melihat HP pintarnya tanpa memperdulikan disekelilingnya
sehingga seakan-akan hilang peran
manusia sebagai makhluk social”, dalam artian etika bersosial dalam halini
interaksinya mulai berkurang.
Yah,,,,,, pasti
ada manfaat dan tidaknya asal tahu proporsi yang digunakan, manfaatnya memberi
informasi yang kebanyakan orang tidak akan tahu jika tidak dengan media-media
social tersebut, media aktualisasi diri misalnya yang itu menjadi ilmu baru
bagi penikmat media social, namun pada dasarnya yang hidup disekekliling kita
adalah manusia yang ada disekitar kita, karena tidak mungkin ketika ada
kecelakan di-upload terlebih dahulu kemudia teman-teman dimedia sosialnya yang
dating menolong, pasti orang-orang disekitarnya yang tanggap dan membantu.
Dan oleh sebab
itu menjadi pelaku zaman atau penikmat zaman dalam istilahnya Gerardette
Philiphs yang mana pelaku zaman adalah selalu berfikir atas apa yang membuat
nyaman dan mengurangi kenyamanan sehingga mampu melaksanakan peran
masing-masing pada zaman tersebut, sedangkan penikmat zaman adalah orang yang
selalu mengikuti bahkan hanyut dalam prkembangan zaman sehingga lupa pada peran
masing-masing. Dengan demikian kita tahu posisi kita dimana sebagai manusia
yang memiliki posisi sebagai makhluk social. Allahu a’lam (*)
Oleh : Lek Dah
(Achmad Dahri)
Tukang sapu di STF al-Faraby
