-->

Integrasi Agama(Islam) dan Sain


Oleh : Achmad Dahri *

intergrasi agama dan sainsIntegarsi  islam dan sain dalam pembelajaran yang ada dalam lembaga-lembaga pendidikan merupakan sebuah keniscayaan yang manamelihat perkembangan zaman yang mempengaruhi sain dan bersentuhan langsung dengan Agama dalam hal ini islam, sebelum lebih jauh harus ditarik pemahaman tentang apaitu islam sebagai nilai bukan sebagai agama. Karena jika di libatkan agama maka masih ada skup-skup yang membatasi dalam integrasi, mengapa islam sebagai nilai? Karena Muhammad sebagai punggawa yang membawa islam atau kedamaian, kesejahteraan dan ketenangan ini diutus untuk memanifestasi dan meluhurkan nilai(akhlak moral), dengan demikian islam itu benar-benar Rahmatan lil’alamin terlapas dari ketuhidan dan Hubungan dengan Tuhan secara personal.
Dengan kemajuan zaman dan IPTEK menuntut agar integrasi antara islam dan sain, melihat pentingnya membumikan Islam secara Kaffah dan menyampaikan ajaran yang selalu menegaskan bahwa Islam Rahmatan Lil’alamin, dalam piagam madinah saja Muhammad menegaskan bahwa bukan membentuk negara islam tapi Dzar As Salam Kaitannya dengan integrasi islam dengan sain mengantarkan kita pada beberapa filusuf Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu sina, Al-Gozali, Mula Sadra, Sayid Qutub dan lain-lain, yang memadukan teks dalam Alquran sebagai poros keagamaan dengan empiris percobaan yang dilakukan kemudian merasakan apa manfaat dari perpaduan itu sehingga menghasilkan pengelaborasian ilmu dan agama, hal ini mengingatkan pada ungkapan Al jabiri yakni integrasi agama dengan sain itu melalui proses bayani(teks), burhani (empiris) dan irfani (rasa)[3].
Salah satu faktor integrasi islam dengan sain adalah terlalu puas dan menerima dogma-dogma agama secara konserfatif, sehingga menganggap benar apa yang sudah ditentukan atau tertulis dalam agama yang terpampang dalam teks(alQuran). Melihat fenomena ini maka gerak manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya akan terbatasi oleh dogma Agama, sehingga muncullah para filusuf islam yang mana oleh kalangan islam konserfatif dianggapsebagai kaum islam orientalis-liberalis, padahal dengan mengintegrasikan islam dan sain yang bebas nilai akan memberikan peluang untuk lebih membebaskan seorang muslim mengembangakan sain atau pengetahuan. Akan tetapi intuisi yang dibangun dalam diri muslim saat ini adalah intuisi dogmatis yang mana dogma agama mmenjadi dewa yang memiliki otoritas dalam perkembangan sain, jika demikian makan sain yang berkembang terikat nilai dan jika terikat nilai maka akan terkekang dan tidak berkembang padahal agama itu khususnya islam itu Yunasibu  fi kulli zaman wa makan dalam artian sesuai dan selalu mengembangkan potensinya disetiap temppat dan waktu.
Faktor lainnya adalah faham ateisme yang memposisikan akal sebagai pusat perkembangan, secara partikular manusia benar karena memberi kebebasan atau hak-hak manusia itu dalam mengembangkan pengetahuannya kemudian out-putnya adalah sain, namun pihak konservatif menentang betul karena mereka memandang atheis itu dengan kacamata dogma agama bukan dengan kaca mata humanisme, kemudian dijustifikasi sebagai kelompok liberalisme atau radikalisme[4]. Intinya adalah integrasi islam dengan sain itu memandang semua apek islam dengan logika sain yaitu mengaitkan dan menghasilkan pengetahuan dengan logika yang disandarkan pada islam sebagai sumber pengetahuannya(wahyu) yang kemudian ada pengembangan dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain yang di jadikan rujukannya, dengan demikian kebebasan dalam mengsainisasikan islam itu menjadi sebuah keniscayaan dan menjadi Rahmatan yang benar-benar lil’alamin.

Pertanyaannya adalah model integrasi yang seperti apayang cocok digunakan dalam lembaga pendidikan? Jawabanyan adalah Likulli syai in Maziya semua memiliki kekurangan dan kelebihan, namun saya menawarkan model “Holistik Integrasistik” dalam artian melibatkan semua aspek keilmuan seperti Epistimologi(cara, metode, dan kurikulum), Ontologi( bahan, materi) kemudian Axiologi(dampak, Nilai)[5], dengan model ini saya melihat ada ke singkronan antara semua aspek keilmuan aspek pengetahuan jikka saya analogikan seperti “orang mencangkul sawah” cangkul adalah ontologi, kegiatan mencangkul yang melibatkan orang dengan cangkul dan sawahnya adalah epistimologi kemudian hasil dari cangkulan itu adalah axiologi. Menurut saya integrasi ini menuntut kembali pada muslim terutama untuk kembali berfikir dan berkompetensi dalam pengetahuan seperti masa-masa kejayaan Islam dulu dan tidak cepat merasa puas.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang