Integarsi islam dan sain dalam pembelajaran yang ada dalam
lembaga-lembaga pendidikan merupakan sebuah keniscayaan yang manamelihat
perkembangan zaman yang mempengaruhi sain dan bersentuhan langsung dengan Agama
dalam hal ini islam, sebelum lebih jauh harus ditarik pemahaman tentang apaitu
islam sebagai nilai bukan sebagai agama. Karena jika di libatkan agama maka
masih ada skup-skup yang membatasi dalam integrasi, mengapa islam sebagai
nilai? Karena Muhammad sebagai punggawa yang membawa islam atau kedamaian,
kesejahteraan dan ketenangan ini diutus untuk memanifestasi dan meluhurkan
nilai(akhlak moral), dengan demikian islam itu benar-benar Rahmatan
lil’alamin terlapas dari ketuhidan dan Hubungan dengan Tuhan secara
personal.
Dengan kemajuan zaman dan IPTEK menuntut agar integrasi antara islam dan
sain, melihat pentingnya membumikan Islam secara Kaffah dan menyampaikan ajaran
yang selalu menegaskan bahwa Islam Rahmatan Lil’alamin, dalam piagam
madinah saja Muhammad menegaskan bahwa bukan membentuk negara islam tapi Dzar
As Salam Kaitannya dengan integrasi islam dengan
sain mengantarkan kita pada beberapa filusuf Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi,
Ibnu sina, Al-Gozali, Mula Sadra, Sayid Qutub dan lain-lain, yang memadukan
teks dalam Alquran sebagai poros keagamaan dengan empiris percobaan yang
dilakukan kemudian merasakan apa manfaat dari perpaduan itu sehingga
menghasilkan pengelaborasian ilmu dan agama, hal ini mengingatkan pada ungkapan
Al jabiri yakni integrasi agama dengan sain itu melalui proses bayani(teks),
burhani (empiris) dan irfani (rasa)[3].
Salah satu faktor integrasi islam dengan sain adalah terlalu puas dan
menerima dogma-dogma agama secara konserfatif, sehingga menganggap benar apa
yang sudah ditentukan atau tertulis dalam agama yang terpampang dalam
teks(alQuran). Melihat fenomena ini maka gerak manusia dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan khususnya akan terbatasi oleh dogma Agama, sehingga muncullah para
filusuf islam yang mana oleh kalangan islam konserfatif dianggapsebagai kaum
islam orientalis-liberalis, padahal dengan mengintegrasikan islam dan sain yang
bebas nilai akan memberikan peluang untuk lebih membebaskan seorang muslim
mengembangakan sain atau pengetahuan. Akan tetapi intuisi yang dibangun dalam
diri muslim saat ini adalah intuisi dogmatis yang mana dogma agama mmenjadi
dewa yang memiliki otoritas dalam perkembangan sain, jika demikian makan sain
yang berkembang terikat nilai dan jika terikat nilai maka akan terkekang dan
tidak berkembang padahal agama itu khususnya islam itu Yunasibu fi
kulli zaman wa makan dalam artian sesuai dan selalu mengembangkan
potensinya disetiap temppat dan waktu.
Faktor lainnya adalah faham ateisme yang memposisikan akal sebagai pusat
perkembangan, secara partikular manusia benar karena memberi kebebasan atau
hak-hak manusia itu dalam mengembangkan pengetahuannya kemudian out-putnya
adalah sain, namun pihak konservatif menentang betul karena mereka memandang
atheis itu dengan kacamata dogma agama bukan dengan kaca mata humanisme,
kemudian dijustifikasi sebagai kelompok liberalisme atau radikalisme[4]. Intinya adalah integrasi islam dengan sain itu
memandang semua apek islam dengan logika sain yaitu mengaitkan dan menghasilkan
pengetahuan dengan logika yang disandarkan pada islam sebagai sumber pengetahuannya(wahyu)
yang kemudian ada pengembangan dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain yang di
jadikan rujukannya, dengan demikian kebebasan dalam mengsainisasikan islam itu
menjadi sebuah keniscayaan dan menjadi Rahmatan yang benar-benar lil’alamin.
Pertanyaannya adalah model integrasi yang seperti apayang cocok digunakan
dalam lembaga pendidikan? Jawabanyan adalah Likulli syai in Maziya semua
memiliki kekurangan dan kelebihan, namun saya menawarkan model “Holistik
Integrasistik” dalam artian melibatkan semua aspek keilmuan seperti
Epistimologi(cara, metode, dan kurikulum), Ontologi( bahan, materi) kemudian
Axiologi(dampak, Nilai)[5], dengan model ini saya
melihat ada ke singkronan antara semua aspek keilmuan aspek pengetahuan jikka
saya analogikan seperti “orang mencangkul sawah” cangkul adalah
ontologi, kegiatan mencangkul yang melibatkan orang dengan cangkul dan sawahnya
adalah epistimologi kemudian hasil dari cangkulan itu adalah axiologi. Menurut
saya integrasi ini menuntut kembali pada muslim terutama untuk kembali berfikir
dan berkompetensi dalam pengetahuan seperti masa-masa kejayaan Islam dulu dan
tidak cepat merasa puas.
*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang