DARI NIETSZHE UNTUK NOVANTO
Oleh : Haris El Mahdi
Penulis adalah Dosen di Universitas Brawijaya Malang
Kata-kata dari Nietszhe itu begitu dihayati dan diresapi oleh Setya Novanto, Ketua DPR yang tersandung kasus "papa minta saham " kepada Freeport.
Celakanya, dalam rekaman yang tersebar di media, Novanto mencatut nama Presiden dan wakil presiden.
pun, hari-hari ini kita melihat wajah kuyu, lelah, dan cemas dari seorang yang oleh Donald Trump disebut sebagai orang kuat dan paling berkuasa itu . Novanto tergopoh-gopoh menemui wakil presiden, Jusuf Kalla, untuk melakukan klarifikasi atas beragam berita yang berseliweran di media.
Setya Novanto seolah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari jebakan lubang hitam (Black Hole), yang bisa saja menghancurkan karier politiknya, yang telah ia bangun bertahun-tahun.
Dan, seperti kata Nietszhe di atas, mengatasi reputasi yang hancur adalah sesuatu yang sulit. Reputasi berkaitan dengan kepercayaan dari orang lain, berhubungan dengan persepsi orang lain terhadap diri kita.
Ketika reputasi hancur, maka seseorang akan hidup sebatang kara, kehilangan teman dan orang-orang yang dicintai, kehilangan "nama besar " yang lama ia banggakan.
Novanto sadar betul akan hal itu. Ia mati-matian untuk menjaga reputasinya, menjaga nama besarnya. Selama bertahun-tahun, Novanto dikenal sebagai orang yang kebal hukum, selalu bisa lepas dari skandal besar. Reputasi sebagai "The untouchable " itu adalah sesuatu yang sakral. Tidak semua orang sanggup meriahnya.
Reputasi sebagai "The untouchable " membuat Novanto mempunyai banyak hak istimewa, menjadi orang yang terhormat dan mempunyai jejaring cabal yang luas.
Adalah mengerikan jika tiba-tiba Novanto dapat dijerat hukum dan dipenjara. Reputasi Novanto hancur, ia kehilangan semu yang ia miliki, termasuk kehilangan diri sendiri. Novanto takut dan tidak siap menghadapi itu semua.
Mengenai reputasi, motivator terkemuka AS, Wayne W Dyer, bertutur :
"Reputasi Anda berada di tangan orang lain Itulah reputasi. Anda tidak bisa mengendalikan itu. Satu-satunya hal yang dapat Anda kontrol adalah karakter Anda."
Dan, sayang beribu sayang, duka beribu duka, Novanto adalah manusia yang tidak mempunyai karakter, tidak mempunyai integritas, yang dengan itu, ia takut kehilangan reputasi.
Novanto adalah teladan manusia yang dipenjara oleh reputasi. Orang seperti ini tak mungkin menjadi pejuang tangguh untuk kebangunan Indonesia.
FOKUS FREEPORT :Setya Novanto Akhirnya Buka Mulut Terkain Freeport

Add Your Comments